Terserah kau yang menentukan

Sudah terlampau lama ku berdamai dengan harapan
Hingga mual dan muak kurasa bersamaan
Rasi bintang tlah ku gambarkan
Sampai rasa dalam hati telah terkuburkan

Tak terasa secangkir kopi ludes kuhabiskan
Tak pernah sedikitpun terdengar ada balasan

Mengapa tuhan ciptakan perempuan
Jika hanya untuk melukiskan kepedihan
Jiwa yang terjajah perlu di bahagiakan
Tak melulu selalu soal percintaan

Di teras gubuk dekat sepasang pilar
Hati dan pikiran kini sedang buyar
Terbayang wajah dia yang entah sedang memikirkan siapa
Atau mungkin sedang bersama siapa

Rasa yang sedang bersemayam di sela-sela kerongkongan
Kini ia merontah penuh kerinduan
Di dendangkannya lagu kesukaan
Meraba bayang, mengirim pesan, menyekat impian

Entah fluktuasi glukosa atau lagu-lagu Fiersa juga semua puisi Wira Nagara
Yang terus menyuntikan harap membuang duka pada ruang kosong yang kau sebut jiwa

Kini, terserah dia yang menentukan
Pergi menjauh menghapus kenangan
Atau pulang pada rumah yang sebenarnya ia rindukan.

-Daffa Ramadhan

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir kalimat.

Diksi tentang fiksi.

Trust to comeback...