Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2018

Terserah kau yang menentukan

Sudah terlampau lama ku berdamai dengan harapan Hingga mual dan muak kurasa bersamaan Rasi bintang tlah ku gambarkan Sampai rasa dalam hati telah terkuburkan Tak terasa secangkir kopi ludes kuhabiskan Tak pernah sedikitpun terdengar ada balasan Mengapa tuhan ciptakan perempuan Jika hanya untuk melukiskan kepedihan Jiwa yang terjajah perlu di bahagiakan Tak melulu selalu soal percintaan Di teras gubuk dekat sepasang pilar Hati dan pikiran kini sedang buyar Terbayang wajah dia yang entah sedang memikirkan siapa Atau mungkin sedang bersama siapa Rasa yang sedang bersemayam di sela-sela kerongkongan Kini ia merontah penuh kerinduan Di dendangkannya lagu kesukaan Meraba bayang, mengirim pesan, menyekat impian Entah fluktuasi glukosa atau lagu-lagu Fiersa juga semua puisi Wira Nagara Yang terus menyuntikan harap membuang duka pada ruang kosong yang kau sebut jiwa Kini, terserah dia yang menentukan Pergi menjauh menghapus kenangan Atau pulang pada rumah yang sebenarnya i...

Luka dan kedai kopi

Lihat .. Dentingan sendok dan cangkir yang bersentuhan Ditempat yang kau tak mungkin ingin lupakan Dengan kenangan yang selalu ada dalam angan Dengar .. Suara bisingnya jalanan sebelum lampu-lampu dimatikan Kau bersinar sebagai satu-satunya yang ku rindukan Berjalan bergandengan, Memeluk erat tanpa sekat, Mencium kening menghilangkan pening Meyelam, mematut kaki, berekreasi Sudah ku jalani, Saat ku sendiri berdiam di lorong sepi mendekap dia yang dulu menyinari Tak sadar kamu yang menjani mosi, Mosi dari semua tulisan juga guratan puisi Ini semua salahku , aku yang terlalu tahan akan arti kata ikhlas, Yang sejatinya membuat luka kini kian membekas Duduk diujung kursi disebuah kedai kopi Aku memejamkan mata seraya berkata Kemarilah, kemari temani aku yang sedang melukai hati, bukan luka yang biasa kau rasakan, bukan sakit yang terkadang cepat terobati. Disenja yang biasa ku lewati Tak pernah lagi ku melihat tawa disana Tawa yang biasanya kita lewati bersama Purna...

Diksi tentang fiksi.

Di malam yang biasanya muram Juga ditemani kepulan asap kelam Duduk ditepi ranjang memandang figura hitam Yang kau hadiahkan didepan teman-teman Ku raba kaca tipis sambil mengucap doa Menghentakan kaki menjernihkan jiwa Berharap esok situasi berpikah kembali Pada kelana yang tak percaya diri Tapi kini gerbang perharapan terbuka lagi Untuk hati yang sudah lama menanti Berpulangnya sang putri yang pernah pergi Dari dekapan yang dulu mati Menunggu memang sekedar memalingkan pandangan Menengadahkan tangan pada semesta Mencuri waktu di dinginnya malam Saat kicauan orang berubah tenang Yang dicari itu bukti bukan janji Janji yang pernah terucap dari seorang putri Kelana yang memang tak percaya diri Berlari kesana dan kesini Tapi mungkin hati ini sedang mati Untuk mencari pengganti seorang putri Daffa Ramadhan.

Trust to comeback...

Kiran namanya, dia bukan orng kampung sini, dia datang dari negeri yang jauh dari sini, dia datang dengan tekad dan keberanian karena dia hijrah seorang diri tanpa ditemani orng2 tersayang. Sukanya mengurung diri di ruang pribadinya trus dengerin playlist musiknya sambil berbaring di atas ranjang pink yang sering ia gunakan juga ada brown teddy yang memeluknya erat. Perawakannya kurus dan tinggi untuk wanita, dia sering kali memakai arloji emas yang terpasang dilengan kirinya juga kacamata dikala ia ingin menggunakannya. Dia wanita yang sungguh mandiri menurutku, berdiri dikakinya sendiri hehe. Tapi terkadang sifat kekanak kanakannya masih sering muncul saat itu, saat masih berada di sampingku. Kiran ini wanita cerdas, wanita yang mampu menilai berbagai hal menurut perspektifnya sendiri tanpa harus "menjiplak" pemikiran siapa pun. Aku sering bertukar pikiran dengannya dan itu sungguh luar biasa, aku belum pernah temui wanita yang bisa bertukar pikiran sebegitu jelasnya apa...