Terserah kau yang menentukan
Sudah terlampau lama ku berdamai dengan harapan Hingga mual dan muak kurasa bersamaan Rasi bintang tlah ku gambarkan Sampai rasa dalam hati telah terkuburkan Tak terasa secangkir kopi ludes kuhabiskan Tak pernah sedikitpun terdengar ada balasan Mengapa tuhan ciptakan perempuan Jika hanya untuk melukiskan kepedihan Jiwa yang terjajah perlu di bahagiakan Tak melulu selalu soal percintaan Di teras gubuk dekat sepasang pilar Hati dan pikiran kini sedang buyar Terbayang wajah dia yang entah sedang memikirkan siapa Atau mungkin sedang bersama siapa Rasa yang sedang bersemayam di sela-sela kerongkongan Kini ia merontah penuh kerinduan Di dendangkannya lagu kesukaan Meraba bayang, mengirim pesan, menyekat impian Entah fluktuasi glukosa atau lagu-lagu Fiersa juga semua puisi Wira Nagara Yang terus menyuntikan harap membuang duka pada ruang kosong yang kau sebut jiwa Kini, terserah dia yang menentukan Pergi menjauh menghapus kenangan Atau pulang pada rumah yang sebenarnya i...