Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2018

Tanpa judul.

Terlambatkah? Disini diruang pribadi ini masih ku gantung bingkai yang menggambarkan kebahagiaan kala itu, kuikatkan kedua lenganku disekeliling kepalamu sambil tersenyum tipis menatap lensa kamera,  dimana kita masih menyapa, saling saut menyaut atas nama rasa kasih dan sayang. Mencintaimu itu bukan sekedar menyatukan dua hati yang berbeda tapi aku tahu bagaimana cara untuk bisa membahagiakanmu, cara memperlakukanmu, cara menahan dan mendampingimu yang mungkin kebanyakan orang belum tahu cara itu. Dibalik bingkai putih didalam kaca bersih terpatut satu nama yang takkan pernah hilang dari akal budi yang membawa sejuta kenangan indah dimasa paling indah tiap siswa, tepat memang jika dikatakan situasi berpihak padaku saat itu, dimana aku merasa bahagia, merasa dicintai, merasa diperhatikan. Jika memang ini jalan terbaik yang tuhan kita rencanakan, jalani dengan penuh keikhlasan karena seorang sahabat pernah berkata, tuhan akan memberimu apapun tapi tuhan takkan semata mata memberim...

Akhir kalimat.

Setelah pengorbanan tak lagi dihargai Angkat kaki dan terlempar dari bumi Merangkul asa serta memangku pinasti Merogok saku yang ada hanya jeruji Dalam benak yang ada ingin benci Perlahan hati membuka diri Bagi seseorang yang elok bagai sedratari Bidadari wangi ataupun seorang putri Kelana yang hanya bisa menahan siku Kini ia bisa tegap mengangkat dagu Dengan hati yang tak lagi sekeras batu Juga pikir meluas tak fokus "satu" Memang benar kelana tetap menagih janji Janji suci yang terucap dari seorang putri Sudahlah, Yang putri harus tahu kini, Kelana tak lagi sendiri Tak lagi benci ataupun iri Hanya bersiap pergi dan berpindah ke lain hati. @Wm.

Fatamorgana merubah fakta

Memang pijakan kaki tak terlampau lama Teringat pertama saat kita saling menyapa Kau juga daku masih menerka nerka  Apakah pantas kita berjuang bersama Tak sadar dengan waktu kita semakin dalam Hingga rela menahan kantuk hanya untuk kalimat selamat malam Yang diramal akan membahagiaan Malah berbuntut kekecewaan Mungkin kini takan ada lagi obrolan Atau bahkan sekedar sapaan Entah apa yang menjadi hambatan Bisa jadi soal penderangan, Kita hanya sibuk saling menyalahkan Tanpa berfikir untuk membetulkan Pelangi yang dirindukan tak kunjung melingkar di garis tawang Hanya diam, dan bersembunyi dibalik awang Tapi kini, tak perlu pelangi hanya sekedar ingin riang Hanya perlu berdamai dengan deburan jiwa dan hati yang tenang. Daffa Ramadhan

Doa terbaik untuk sahabat terbaik

Saat kita sama sama duduk di kelas 10 kita mungkin tak saling kenal walaupun kelas kita bersebelahan. Khususnya aku, aku hanya tahu tanpa mengenalmu, mungkin malah kmu yng ga kenal sama sekali namaku hehe. Sesudah pembagian rapot ada kabar kelas akan di pecah dan digabung dengan kelas lain, aku sih santai ga terlalu memikirkan teman sekelas aku karena aku yakin siapapun teman sekelasku pasti mereka baik dan solider aku yakin itu. Saat pembagian kelas aku masuk di kelas Sosial 3 sama seperti kelasku dulu. Saat hari pertama dikelas 11 aku masih canggung walaupun ada teman2ku dikelas 10. Tak ingat persis bagaimana dan kapan aku bisa dekat dengan teman sekelasku, di kelas 11 aku berpacaran dengan wanita Mipa sudah lama rasanya aku tidak berpacaran baru kali ini lagi aku bepacaran, pacarku memiliki sahabat2 dan salah satunya kmu, iya kmu! Hari demi hari aku senang curhat denganmu karena kmu teman dekat pacarku, sampai kita membicarakan hal hal yang ga penting, sampai saat itu aku spam li...

Lavender

Fahami dulu dirimu terlebih dahulu, memang banyak yang bilang hatimu kuat seperti bongkahan kayu mahoni tapi ingat! Kayu jika ditempa oleh air dan angin lama kelamaan akan rapuh dan membusuk. Ada pun yang bilang hatimu seperti langit karena langit itu luas tanpa batas, cerah tanpa kelam juga berseri di siang dan pagi hari, tapi kamu lupa satu hal kawan langit pun pernah menangis, menangis karna tak sanggup membendung air mata yang tergendang di sebuah media yang bernama awan. Mungkin bernar, ada pepatah "jodoh mah ga kemana" karna tadi siang aku membaca sebuah novel karangan Panji Ramdana, ia mengisahkan dua insan yang saling mencintai tapi mereka sadar, cinta mereka skrng itu bkn cinta yang tuhan mereka ingini, mereka menempuh jalan yang memang seharusnya di tempuh. Rama, merupakan laki laki soleh yang diam diam mengagumi sosok wanita yang cantik, selama dua tahun lamanya Rama hanya mampu mengaguminya tanpa "berani" menyatakan apa isi hatinya. Di satu waktu Rama ...