Lavender

Fahami dulu dirimu terlebih dahulu, memang banyak yang bilang hatimu kuat seperti bongkahan kayu mahoni tapi ingat! Kayu jika ditempa oleh air dan angin lama kelamaan akan rapuh dan membusuk.
Ada pun yang bilang hatimu seperti langit karena langit itu luas tanpa batas, cerah tanpa kelam juga berseri di siang dan pagi hari, tapi kamu lupa satu hal kawan langit pun pernah menangis, menangis karna tak sanggup membendung air mata yang tergendang di sebuah media yang bernama awan.
Mungkin bernar, ada pepatah "jodoh mah ga kemana" karna tadi siang aku membaca sebuah novel karangan Panji Ramdana, ia mengisahkan dua insan yang saling mencintai tapi mereka sadar, cinta mereka skrng itu bkn cinta yang tuhan mereka ingini, mereka menempuh jalan yang memang seharusnya di tempuh. Rama, merupakan laki laki soleh yang diam diam mengagumi sosok wanita yang cantik, selama dua tahun lamanya Rama hanya mampu mengaguminya tanpa "berani" menyatakan apa isi hatinya. Di satu waktu Rama pun memberanikan diri berkomunikasi dengan wanita itu, wanita itu bernama Veranda Bunga Lavender. Dengan surat elektronik yang ia kirim setiap hari pada Veranda ia seolah olah mengisahkan kisah hidup Veranda di blog nya, tanpa menyantumkan identitas dirinya. Surat demi surat yang Rama kirim menghasilkan sesuatu, yaa benar! Veranda benar benar jatuh cinta pada tulisan Rama yang mengena di hatinya. Veranda mencari tahu siapa orng dibalik tulisan2 indah itu, sampai saat ini, saat dimana saya belum membereskan novel ini Veranda belum tahu siapa orng dibalik blog ini. Ohiyaaa, ada hal yang tertinggal. Ada surat dari Rama yang pertama kalinya ia tulis benar benar di media secarik kertas sungguhan bukan surat elektronik yang biasanya ia tulis.

(harusnya disini ada gambar bunga lavender tapi gtau gmna caranya)

Isinya, "Untuk Veranda Bunga Lavender, maafkan aku yang hanya bisa seperti ini. Menyampaikan perasaanku pada secarik kertas, semoga kamu bisa mengerti dengan apa yang aku tulis ini. Memang, surat ini tentunya berbeda dengan surat-surat cinta yang selalu orang lain buat. Aku tidak berani untuk merayumu lebih jauh lagi, izinkan untuku menyampaikan satu hal dimalam ini, dengan penuh kesungguhan dan keyakinan. Tolong tunggulah aku di rumahmu. Ketika saatnya tiba, aku akan datang. Biarlah hari-hari yang kita lewati nanti kita jalani masing-masing. InsyaAllah, jika kita saling menjaga dalam heningnya cinta. Kita akan dipertemukan kembali dan mengikrarkan janji sehidup sesurga dalam ridho-Nya, Aamiin." (menuju baik itu baik : 96)
Jadi skrng aku sih percaya dengan pepatah "jodoh mah ga kemana" karna aku belajar dari buku ini, jika kmu cinta dengan makhluk, tahap pertama yang kmu harus tempuh adalah dekati dulu penciptanya.

DR

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir kalimat.

Diksi tentang fiksi.

Trust to comeback...