Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2018

Mencari jawaban dari salah dua pertanyaan

Dikala sesak dengan riuhan teman Tapi mengapa hati terasa bosan Hingga tak sadar ada sapaan dari salah satu kawan Di dengarkannya lagu dari band pujaan Dibantu alat dengar kecil yang di tambatkan pada indera pendengaran Membuka lembaran tulisan yang diperoleh dengan dasar pinjaman Berkolaborasi dengan kepulan asap putih yang membumbung Tak jarang membuat enek di bagian lambung Tapi memang itulah caraku melepas gundah pada kedung Dengan tetes cairan keruh ku seruput Menambah kesan syahdu tanpa keriput Juga melenturkan otot wajah yang kian mengkerut Walau perilaku orng di sekitarku yang kocak Sampai ada yang terbahak mirip berteriak Aku tetap diam dan tidak bergerak Sampai kawan ku sangka ku sedang serak Inikah sebuah makna dari kata jenuh? Inikah arti sebuah jiwa yang sedang lusuh? Sampai sajak ini ditulis aku pun tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini, hanya tetap diam tak bergerak dan masih memikirkan jawaban dari pertanyaan tadi. Hampir pukul 12 malam.

Juang dalam bakti juga bukti kami pada negeri

Berdiri berjejer rapi bersepatu tali Kami pasukan sejati berlatih tanpa henti Dengan kemistri yang timbul dari relung hati Dipasangnya seragam putih bak pemuda pemudi resmi Melangkahkan kaki dengan pasti membentuk formasi demi bakti kami pada negeri Membentangkan bendera pusaka sambil berdiri hormat pada pertiwi Dibalik tradisi ini ada jiwa yang merasa bangga Dengan usaha juga doa, kami tahan dahaga demi momen yang berharga Nyenyatnya suasana menambah sisi indah nan mulia Terenyuh dan tak menyangka jua tak kuasa menahan air mata Dibentangkannya kain pusaka Diangkatnya lengan tanda merdeka Digumamkannya riuh sendu merdu suara Syukurlah...  Peluh kami terbayar dengan hangatnya sinar fajar Terasa nostalgia juga bangga yang menggebu dalam dada Sampailah kita pada titik dimana semua sudah terlaksana Beban bersama terasa lepas dari jiwa dan raga Semoga ini menjadi suatu peristiwa yang terkenang sepanjang masa Cianjur, Januari 25 Upter Avenger 2018

Tetap disini bersama para pengabdi

Krangkeng batu pembawa anomali Riak sunyi para gadis berbais Mencengkram pena penggurat aksara Tanpa didengar semua yang dikata Jalan apa yang di pilih? Mendengar! Sentak kinja terpedaya Dengan raut wajah muram durja Penjaga menghentikan sesuatu yang menyiksa Sebuah doa dari penjaga Pada siswa yang memuja; Nak, mayapada takan mampir diujung dermaga, hanya usaha kelana yang tercipta. Kau lahir bukan untuk dibual atau membual, aurum pagi memuai nilai diri dari hati. Tak kentara sudut bumi yang dicari Guratan penamu hari ini bisa jadi tuah dikemudian hari. Dekat pintu kelas pukul 11 siang --DaffaRamadhan

Lamunan di pagi hari

Kala ku buka kelopak mata Sinar surya melambai kan binarnya Ku ketuk gerbang dan jendela Kubuka lembaran teduh puisi Lalu kujelajahi bait dan syair Yang tersusun dalam rima Kan kuukir namamu cinta Seindah bunyi dan irama Teduhmu serupa dengan embun Seputih air sebening jiwa Yang mengajakku tuk melamun Terkenang saat mengikat kenanga Bahagiaku terpancar takkala ... Mengingat sejuk wajahmu Terhanyut dalam lantunanmu Mengernyitkan dahi saat mencium aroma tubuhmu Lamunan sejuk saat membayangkanmu Sewatara langit mengedipkan pandangan Menuntunku membuang rasa bosan Kalaku pandangi masa depan Melangkah pasti tangan bergandengan Suatu sajak yang didedikasikan atas dasar perjuangan dalam meraih kebahagiaan ... -DaffaRamadhan Pukul 23malamlewatsedikit.

Mengubur asa dibalik hati yang binasa

Biar sudah bergerak mundur lupakan sejarah Sejarah yang mungkin jauh dari kata cerah Memang tidak sampai bercucuran darah Hanya perasaan yang cengah dan terasa begah Sudahlaah, Berdiri menjunjung tonggak yang dipikul Memang benar ku sedang terpukul Sakit? Memang Iya, tapi terlampau gerah Seperti diberondong ribuan anak panah Kata fiersa bicara, cepat kau benarkan kerah Juga berdiri memerdekakan jiwa yang terjajah. Kawan cakap kau selalu diinjak Kurasa hati bukan tempat memijak Bak langkahan kaki seekor biawak Tapi hanya mencoba berdiri dengan bijak Didengarnya kata suci dari seorang khalifah Cakapnya dia, sekali waktu ku pernah kecewa dan sialnya aku salah memendam harap pada manusia. Teruntuk suldaf yang sedang memerdekakan hatinya; (24012018)

Korban dari keadaan

Siapa aku? Budak pelacuran Korban pemuda tua Yang mengoyak dasar iman Subjek pemuas nafsunya Menengadah, Bercucuran peluh Memompa tuah serapah Dipandangnya aku Sebelah mata Serupa jiwa Yang tak bernyawa Hentikan! Puaskah tuan melampiaskan Riak sendu yang terdengar Demi lembaran kudus Demi penghidupan Semalaman pun ku mendengkus Maaf tuhan, Ini jalan pengabdian Terserah KAU Terimaku yang penuh kemungkaran Dimana hidup terasa miring, ku cari jalan tikus tuk mencukupi piring, dan membasahi kerongkongan yang kering ... Beribu maafku tuhan. -DaffaRamadhan, Januari 2018

Teruntuk jiwa yang tak lelah berdoa

Raut wajah merupakan ungkapan sejarah  dari sebuah pengorbanan. Tangannya yang membelai lembut tak pernah mengenal kata meminta. Sentuh kasihnya menerka tak ingin di sangka, memandangi bumantara dari atap gubuk sambil sejenak tercenung ditepian senja. Pernahkah meminta? Sejak buaian kau ditimang hingga kolase hidup yang di isap, tapi apa? Tak ada meminta keluar dari senyumnya. Dari balik tirai ia berdoa pada tuhan, tanpa meminta diberi suatu balasan. Maaf bu. Tangga sekola 22 Januari

Bermodal langkah kaki dan tekad yang tinggi

Sinar fajar masih bersembunyi di balik malam kelam. Sudahku langkahkan kakiku menjuju tujuan Sambil memikul beban yang berisi makanan Dipandangnya kiri kanan yang terlihat hanya hutan. Beberapa waktu kemudian, hangatnya mentari baru menyinari Mata kami baru terbelalak saat menikmati indahnya pagi Terasa hidup di pelataran surgawi Perjalanan tak terasa karna kami saling berbagi Dibukanya nya isi peti agar menahan konsentrasi Sambil mematut kaki juga saling memberi motivasi Raga yang sampai di puncak bumi pertiwi Seakan tak percaya pada diri sendiri yang mampu melawan letih juga emosi Disana, kami menangis tanda terharu akan perjuangan yang tak kenal berhenti Disini kami bercerita dengan jiwa dan raga Benar kata para pujangga, bukan kita yang mengukir karya tapi peristiwa yang menggurat aksara. Cianjur, 24 januari Kami para pendaki

Hanya karya tanpa dusta

Usai sudah kisah usang yang lama bertahan Dengan kesan miris sang pendoa tak lagi meminta Penuh jeritan jiwa yang tak lagi menyiksa Juga takkan membuncah dirundung dilema Senyummu tak lagi seindah binar fajar Ragamu tak lagi sekuat paku kawat Cukup, Melepas tangkapan dari dekapan Muncul si pahlawan yang sekarang ada di garis terdepan Cuma satu lagi pintaku tuhan, Berikan kebahagiaan jua kesetiaan Jangan lagi ada soal penghianatan Di hari-hari kedepan Soal kelana, apa kabar? Dia sibuk dengan coretan aksara Juga menyibukan diri dengan pilihnya Tanpa tersirat apa inginya Hanya ikut serta dan ikut bahagia Terima kasih kirana, Januari 2018 Atas nama Saya sendiri