Luka dan kedai kopi
Lihat ..
Dentingan sendok dan cangkir yang bersentuhan
Ditempat yang kau tak mungkin ingin lupakan
Dengan kenangan yang selalu ada dalam angan
Dengar ..
Suara bisingnya jalanan sebelum lampu-lampu dimatikan
Kau bersinar sebagai satu-satunya yang ku rindukan
Berjalan bergandengan,
Memeluk erat tanpa sekat,
Mencium kening menghilangkan pening
Meyelam, mematut kaki, berekreasi
Sudah ku jalani,
Saat ku sendiri berdiam di lorong sepi mendekap dia yang dulu menyinari
Tak sadar kamu yang menjani mosi,
Mosi dari semua tulisan juga guratan puisi
Ini semua salahku ,
aku yang terlalu tahan akan arti kata ikhlas,
Yang sejatinya membuat luka kini kian membekas
Duduk diujung kursi disebuah kedai kopi
Aku memejamkan mata seraya berkata
Kemarilah, kemari temani aku yang sedang melukai hati, bukan luka yang biasa kau rasakan, bukan sakit yang terkadang cepat terobati.
Disenja yang biasa ku lewati
Tak pernah lagi ku melihat tawa disana
Tawa yang biasanya kita lewati bersama
Purnama yang masih terus menyinari,
Baskara yang belum tampak masih bersembunyi,
Kehilangan,
Kebencian,
Penyesalan,
Meletup letup di dalam sebuah ruang yang tersisa dalam relung yang telah murung
Menepis bayangan yang mungkin selalu kau kirimkan,
bukan hal mudah,
Untuk itu bantulah aku yang tak ingin membuang bayangmu di satu-satunya ruang yang masih ku perjuangankan.
-Daffa Ramadhan
Komentar
Posting Komentar